Sunday, November 17, 2013

Nematoda

2
7:29 PM
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.          Latar belakang
Cacing Nematoda berasal dari bahasa Yunani, Nema artinya benang. Cacing nematoda adalah cacing yang bentuknya panjang, silindrik, tidak bersegmen dan tubuhnya bilateral simetrik, panjang cacing ini mulai dari 2 mm sampai 1 m. Nematoda adalah hewan multiseluler yang paling banyak jumlahnya di bumi dan terdapat hampir di seluruh habitat dan beberapa juga terdapat di tempat yang tidak biasa seperti sumber mata air panas, es, laut dalam, dan lingkungan berasam dan dengan kadar oksigen rendah. Kelimpahannya mencapai jutaan individu per m2 tanah pada tanah dan sedimen dasar perairan. Nematoda memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga kelestarian tanah, salah satunya adalah sebagai dekomposisi material racun atau secara istilah disebut bioremediasi. Nilai nematoda sebagai bioremediasi tanah ini sangatlah penting. Jika dihitung dengan rupiah maka akan didapatkan seberapa pentingnya hewan kecil ini bagi tanah dan tentunya bagi manusia.
Nematoda darah atau dikenal sebagai Nematoda filaria, cara filaria menginfeksi manusia yaitu melalui gigitan vektor Arthopoda, misalnya nyamuk.Vektor ini menjadi infektif karena menelan mikrofilaria yang berada dalam darah mamalia. Setiap spesies filaria mempunyai pola daur hidup yang kompleks. Infeksi pada manusia terjadi apabila terkena pemaparan larva infektif secara intensif dalam jangka waktu lama. Setelah pemaparan, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk terjadinya perubahan patologis nyata pada manusia (Onggowaluyo,J.S, 2002).
Mikrofilaria dapat ditemukan dalam darah pada malam hari dan siang hari, tetapi ditemukan dalam jumlah besar pada malam hari dan lebih banyak ditemukan dalam kapiler dan pembuluh darah paru-paru (Onggowaluyo, J.S, 2002).
 Nematoda yang hidup sebagai parasit di dalam darah dan jaringan terdiri atas tiga kelompok, yaitu (1) Cacing Filaria dan dracunculus, (2) Invasi larva migrans di dalam kulit serta alat dalaman, (3) Nematoda yang jarang didapat, di dalam jaringan hati, ginjal, paru-paru, mata, dan subkutis. Cacing nematoda darah dan jaringan memiliki morfologi dasar yang sama dengan cacing nematoda lainnya  (Muslim, 2009).

1.2.          Tujuan
1.2.1.           Mengetahui tentang klasifikasi pada Nematoda parasit jaringan
1.2.2.           Mengetahui tentang epidemiologi, distribusi geografik dan kondisi penyakit terkini pada Nematoda parasit jaringan
1.2.3.           Mengetahui tentang morfologi pada Nematoda parasit jaringan
1.2.4.           Mengetahui tentang siklus hidup pada Nematoda parasit jaringan
1.2.5.           Mengetahui patologi pada pada Nematoda parasit jaringan
1.2.6.           Mengetahui pencegahan dan pengendalian pada pada Nematoda parasit jaringan


BAB II
ISI
Nematoda darah atau dikenal sebagai Nematoda filaria, cara filaria menginfeksi manusia yaitu melalui gigitan vektor Arthopoda, misalnya nyamuk.Vektor ini menjadi infektif karena menelan mikrofilaria yang berada dalam darah mamalia. Setiap spesies filaria mempunyai pola daur hidup yang kompleks. Infeksi pada manusia terjadi apabila terkena pemaparan larva infektif secara intensif dalam jangka waktu lama. Setelah pemaparan, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk terjadinya perubahan patologis nyata pada manusia (Onggowaluyo,J.S, 2002).
           Berberapa spesies yang termasuk nematoda parasit jaringan antara lain Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia Timori, Loa- loa, Onchocerca volvulus, dan Dracunculus medinensis (cacing guinea).
2.1.          Wuchereria bancrofti
2.1.1.             Klasifikasi
Kingdom            : Animalia
Filum      : Nematoda
Kelas       : Secementea
Ordo       : Spirurida
Genus     : Wuchereria
Spesies    : Wuchereria bancrofti
2.1.2.             Epidemiologi, Distribusi Geografik, dan Penyakit terkini
Parasit ini tersebar luas di daerah tropik dan subtropik, meluas jauh ke utara sampai Spanyol dan ke selatan sampai Brisbane, Australia. Di sebelah timur dunia dapat ditemukan di Afrika, Jepang, Taiwan, Filipina, Indonesia dan kepulauan Pasifik Selatan. Di belahan barat dunia di hindia barat, Costa Rica dan sebelah utara Amerika Selatan. Frekuensi filariasis yang bersifat periodik, berhubungan dengan kepadatan penduduk dan kebersihan yang kurang, karena culex quinguefascialus sebagai vektor utama, terutama membiak di dalam air yang dikotori dengan air got dan bahan organik yang telah membusuk. Di Daerah Pasifik Selatan frekuensi Filariasis nonperiodik di daerah luar kota sama tingginya atau lebih tinggi dari pada di desa-desa besar karena vektor terpenting ialah Aedes Polynesiensis, seekor nyamuk yang biasanya hidup di semak-semak. Frekuensi berbeda-beda menurut suku bangsa, umur, jenis kelamin, terutama berhubungan dengan faktor lingkungan. Orang Eropa, yang lebih terlindung terhadap nyamuk, mempunyai frekuensilebih rendah daripada penduduk_asli.
Vektor utama di belahan Barat Dunia ialah Culex quinquefanciatus dan di Pasifik Selatan Aedes Polynesiensis. Nyamuk Culex quinquefanciatu menggigit pada malam hari, hidup di rumah dan daerah kota, sedangkan nyamuk Aedes Polynesiensis menggigit pada siang hari, hidup di luar rumah dan di daerah hutan. Di daerah Pasifik Selatan filariasis nonperiodik berbeda dengan yang periodik atas dasar perbedaan geografis dan perbedaan-perbedaan kecil pada cacing dewasanya. Periodisitas tidak berubah walaupun orang yang terkena infeksi berpindah ke daerah nonperiodik. Di Indonesia filariasis tersebar luas di daerah endemi terdapat di banyak pulau di seluruh Nusantara, seperti di Sumatera dan sekitarnya, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Irian Jaya. Untuk dapat memahami epidemiologi filariasis, kita perlu memperhatikan faktor-faktor seperti hospes, hospes reservoar, vektor, dan keadaan lingkungan (Djaenudin, 2009).
Distribusi geografis cacing Wuchereria bancrofti yaitu : Parasit ini tersebar luas di daerah yang beriklim tropis diseluruh dunia dan terdapat di Indonesia. Di belahan barat dunia dan ada di daerah perkotaan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus.Di Pasifik Selatan dan ada di daerah pedesaan oleh nyamuk Aides Polynesiensis.
Di Indonesia, penyakit ini ditemukan dengan prevalensi rendah di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Lombok. Nyamuk Anopheles_ dan Culex merupakan vector yang menggigit pada malam hari untuk tipe W. bracofti periodic nokturna, sedangkan galur yang subperiodik ditukarkan oleh nyamuk Aedes yang menggigit pada siang hari. Di daerah endemic, pemaparan dimulai pada masa anak – anak, angka mikrofilaria meningkat bersama dengan meningkatnya umur, meskipun infeksi tidak disertai dengan gejala klinis yang nyata (Djaenudin, 2009).
2.1.3.             Morfologi
Cacing dewasa berwarna putih kekuning-kuningan, lapisan luarnya diliputi kutikula halus, memiliki bentuk silindris seperti benang, kedua ujung tumpul, bagian anterior membengkak, terdapat mulut berupa lubang sederhana tanpa bibir ataupun alat lainnya, langsung menuju esofagus dengan sebuah rongga bukal tetapu tanpa tonjolan maupun konstriksi seperti tanda khas yang terdapat pada beberapa nematoda (Muslim, 2009).
Cacing jantan ukurannya lebih kurang 40mm x 0,1mm, ujung kaudal melengkung ke ventral, didapat 12 pasang papila perianal, terdiri atas 8 pasang preanal dan 4 pasang posanal. Terdapat 2 spikula dengan guberkulum yang bebentuk bulan sabit (Djaenudin, 2009).
Cacing betina berukuran 80-100mm x 0,24-0,30mm, vulva terletak di daerah servikal, vagina pendek dengan sebuah segmen keluar dari uterus selanjutnya organ genitalia ini berpasangan. Embrio yang masih muda terdapat di bagian dalam uterus dilapisi lapisan hialin yang tipis, lebih kurang berukuran 38-25m, jika terdorong ke bagian uterus, bungkusnya memanjang menyesuaikan dengan bentuk embrio sampai embrio lahir tetap terbungkus sarung, embrio ini disebut mikrofilaria (Muslim, 2009).
2.1.4.             Daur Hidup
Dalam Tubuh Manusia (Definitif host) :
Cacing dewasa berada dalam saluran dan kelenjar lymphe, setelah kawin cacing betina akan melahirkan mikrofilaria (ovo vivipar) sesuai dengan sifat periodisitasnya mikrofilaria-mikrofilaria tersebut akan berada di darah tepi . Bila kebetulan ada nyamuk yang sesuai menggigit penderita tersebut, maka mikrofilaria akan ikut terhisap bersama darah penderita dan masuk ke tubuh nyamuk. Didalam tubuh manusia mikrofilaria dapat bertahan hidup lama tanpa mengalami perubahan bentuk (Muslim, 2009).
Dalam Tubuh Intermediate host :
Nyamuk yang berperan sebagai vektor biologis/hospes perantaraan untuk Wuchereria bancrofti adalah dari genus : Culex, Anopheles,Aedes. Mikrofilaria yang terhisap masuk pada saat terjadinya gigitan, sesampai di lambung nyamuk akan melepaskan sheathmya. Dalam waktu 1-2 jam kemudian ia menembus dinding usus nyamuk menuju ke otot-otot thorax untuk mengadakan metamorfosis. Dalam waktu kurang lebih 2 hari mikrofilaria akan tumbuh menjadi larva stadium I (l24-250 mikron X 10-17 mikron) dan 3-7 hari kemudian menjadi larva stadium II yang panjangnya (225-330 mikron dan lebar 15-30 mikron) dan pada hari ke 10-11 pertumbuhan larva dapat dikatakan telah lengkap menjadi larva stadium III dengan ukuran panjang 1500-2000 mikron dan lebarnya 18-23 mikron), yaitu stadium yang infektif untuk manusia. Larva tersebut bermigrasi ke kelenjar ludah (proboscis). dan siap untuk ditularkan bila nyamuk tersebut menggigit manusia lagi (Muslim, 2009).
2.1.5.             Patologi
Perubahan patologi yang utama terjadi akibat kerusakan inflamatorik pada sistem limfatik yang disebabkan oleh cacing dewasa, bukan mikrofilaria. Cacing dewasa ini hidup dalam saluran limfatik aferen atau sinus – sinus limfe sehingga menyebabkan dilatasi limfe. Dilatasi ini mengakibatkan penebalan pembuluh darah di sekitarnya. Akibat kerusakan pembuluh darah, terjadi infiltrasi sel plasma, eosinofil, dan makrofag di dalam dan sekitar pembuluh darah yang terinfeksi dan bersama dengan proliferasi endotel serta jaringan ikat, menyebabkan saluran limfatik berkelok – kelok serta katup limfatik menjadi rusak. Limfedema dan perubahan statis yang kronik terjadi pada kulit diatasnya.
Selain itu, gejala filariasis disebabkan oleh cacing dewasa baik yang hidup maupun yang mati atau yang telah mengalami degeneasi. Filarisasi bancrofti dapat berlangsung selama beberapa tahun sehingga dapat mempunyai gambaran klinis yang berbeda-beda. Reaksi pada manusia terhadap infeksi filaria berbeda dan beraneka ragam dan tidak mungkin stadium penyakit di batasi dengan pasti (Gandahusada, 1998).
Pertama, Filariasis Tanpa Gejala. Di daerah endemik, pada anak-anak berumur 6 tahun telah dapat ditemukan mikrofilaria didalam daerah tanpa menimbulkan gejala yang menunjukkan adanya infeksi ini. Bahkan, pada waktu cacing dewasa mati microfilaria menghilang, penderita tetap tidak menyadari akan adanya infeksi.
Kedua, Filariasis dengan Peradangan. Infeksi filaria dengan peradangan merupakan fenomena alergi berdasarkan kepekaan terhadap metabolit cacing dewasa yang hidup dan yang mati. Funiculitis , Epidydimitis, Orchitis, Limforgitis retrograde dari anggota tubuh, pembengkakakn setempat dan kemerahan lengan dan tungkai merupakan gejala-gejala yang khas dari serangan yang berulang-ulang. Demam menggigil, sakit kepala, muntah dapat menyertai serangan tadi, yang berlangsung antara beberapa hari sampai beberapa minggu. Yang terutama terkena ilah saluran limfe tungkai dan alat genital. Pada laki-laki umumnya terdapat Limfongitis akut dari funiculus spermaticus (funiculitis) disertai penebalan dan rasa nyeri, Epydidimitis, jaringan retroperitoneal, kelenjar ari-ari, dan otot ileo-psoas juga dapat terjadi karena cacing yang mati dan mengalami degenerasi.
Ketiga, Filariasis dengan Penyumbatan. Gejala akhir yang dramatic pada filarisasi ialah elephantiasis. Penyumbatan pada filariasis terjadi perlahan-lahan, biasanya setelah terkena infeksi dengan filarial secara terus-menerus selama bertahun-tahun. Kelainan ini didahului oleh edema menahun dan sering juga oleh serangan peradangan akut yang berulang-ulang.
Dalam stadium menahun reaksi reaksi sel dan sembab diganti oleh hiperplasi fibroblast. Terhadap penyerapan dan pergantian parasit oleh jaringan granulasi yang proliferative. Dibentuk varises saluran limfe yang luas. Kadar protein yang tinggi didalam limfe merngsang pembentukan jaringan ikat kulit dan kolagen, dan sedikit demi sedikit setelah bertahun-tahu. Bagian yang membesar menjadi keras dan timbul elephantiasis menahun. Elephanthiatis pada umumnya mengenai tungkai dan alat kelamin dan menyebakan perubahan bentuk yang luas (Gandahusada, 1998).
2.1.6.             Pencegahan dan Penanganan
Pencegahan terhadap wuchereriasis di daerah endemic meliputi pemberantasan nyamuk dan mematikan parasit dalam badan manusia yang merupakan sumber infeksi. Penyemprotan residu di dalam rumah dan pemakaian larvisida dapat berhasil terhadap Culex quinquefasciatus dan nyamuk domestic lainnya. Akan tetapi cara pemberantasan ini tidak efektif terhadap nyamuk yang hidup di daerah rimba seperti Aides polynesiensis. Pemberian Hetrazan secara masal untuk membasmi microfilaria di dalam darah para pengandung dan pemakaian insektisida untuk pemberantasan nyamuk berhasil baik di St.Croix, Virgin Islands dan Tahiti. Perlindungan manusia dengan menutup ruangan dengan kasa kawat, kelambu tempat tidur, “repellent” nyamuk, pakaiann yang melindungi, merupakan persoalan ekonomi dan pendidikan. Obat DEC tidak mempunyai khasiat pencegahan oleh sebab itu penduduk perlu dididik untuk melindungi dirinya dari gigitan nyamuk (Djaenudin, 2009).

2.2.          Brugia malayi dan Brugia Timori
2.2.1.             Klasifikasi
Kingdom            : Animalia
Phylum   : Nematoda
Class       : Secernentea
Order      : Spirurida
Family     : Onchocercidae
Genus     : Brugia
Species    : Brugia malayi  (Binomial name BuRg, 1927)         
                  Brugia timori   (Binomial name Partono et al, 1777)
2.2.2.             Epidemiologi, Distribusi Geografik, dan Penyakit terkini
B.malayi dan B.timori hanya terdapat di pedesaan, karena vektornya tidak    dapat berkembang biak diperkotaan. B.malayi yang hanya hidup pada manusia dan B.timori biasanya terdapat di daerah persawahan, sesuai dengan tempat perindukan vektornya, An.barbirostris. B.malayi yang terdapat pada manusia dan hewan biasanya terdapat di pinggir pantai atau aliran sungai, dengan rawa-rawa. Penyebaran B.malayi bersifat fokal, dari Sumatra sampai ke kepulauan Maluku. B.timori hanya terdapat di Indonesia bagian Timur yaitu Nusa Tenggara Timur dan Timor-Timur. Yang terkena penyakit ini terutama adalah petani dan nelayan. Kelompok umur dewasa muda paling sering terkena penyakit ini, sehingga produktivitas penduduk dapat berkurang akibat serangan adenolimfangitis yang berulang kali. Cara pencegahan sama dengan filariasis bankrofti (Inge, 2008).
B.malayi hanya terdapat di Asia, dari India sampai ke Jepang, termasuk Indonesia. B.timori hanya terdapat di Indonesia Timur di Pulauu Timur di Pulau Timor, Flores, Rote, Alor, dan beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara Timur (Inge, 2008).
2.2.3.             Morfologi
aq 
Sumber: http://doctorology.net

Cacing dewasa jantan dan betina hidup di saluran dan pembuluh limfe. Bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu. Yang betina berukuran 21 – 39 mm x 0,1 mm dan yang jantan 13- 23 mm x 0,08 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung. Ukuran mikrofilaria Brugia timori adalah 280 – 310 mikron x 7 mikron (Inge, 2008).
2.2.4.             Daur Hidup
siklus hidup b.malayi
Sumber: http://www.dpd.cdc.gov
Periodesitas mikrofilaria B.malayi adalah periodik nokturna, subperiodik nokturna  atau nonperiodik, sedangkan mikrofilaria B.timori mempunyai sifat periodik nokturna. B.malayi yang hidup pada manusia ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris dan yang hidup pada manusia dan hewan ditularkan oleh nyamuk Mansonia. B.timori ditularkan oleh nyamuk An.barbirostris. daur hidup kedua parasit ini cukup panjang, tetapi lebih pendek daripada W.bancrofti. Masa pertumbuhannya di dalam nyamuk kurang lebih 10 hari dan pada manusia kurang lebih 3 bulan. Di dalam tubuh nyamuk kedua parasit ini juga mengalami dua kali pergantian kulit, berkembang dari larva stadium I menjadi larva stadium II dan III, menyerupai perkembangan parasit W.bancrofti didalam tubuh manusia perkembangan kedua parasit tersebut juga sama dengan perkembangan W.bancrofti (Inge, 2008).
2.2.5.             Patologi
Brugia malayi dan Brugia timori ditularkan oleh An. barbirostris.  Didalam tubuh nyamuk betina, mikrofilaria yang terisap waktu menghisap darah akan melakukan penetrasi pada dinding lambung dan berkembang dalam otot thorax hingga menjadi larva filariform infektif, kemudian berpindah ke proboscis. Saat nyamuk menghisap darah, larva filariform infektif akan ikut terbawa dan masuk melalui lubang bekas tusukan nyamuk di kulit. Larva infektif tersebut akan bergerak mengikuti saluran limfa dimana kemudian akan mengalami perubahan bentuk sebanyak dua kali sebelum menjadi cacing dewasa.
2.2.6.             Pencegahan dan Penanganan
Pencegahannya adalah dengan cara berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vektor, mengurangi kontak dengan vektor, misalnya dengan menggunakan kelambu bula akan sewaktu tidur, menutup ventilasi rumah dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk semprot atau obat nyamuk bakar, mengoles kulit dengan obat anti nyamuk atau dengan cara memberantas nyamuk, dengan membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan nyamuk, menimbun, mengeringkan atau mengalirkan genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk, membersihkan semak-semak di sekitar rumah.
Perlindungan terhadap filariasis dapat dilaksanakan melalui penghindaran dari gigitan nyamuk yang  mengandung larva cacing filaria. Metoda yang  dapat dilakukan antara lain dengan memakai kelambu, terutama yang mengandung insektisida seperti permethrin. Yang paling ideal adalah melalui pengendalian/ eradikasi  vektor nyamuk dilingkungan pemukiman. Namun kedua cara ini di sebagian besar belahan dunia terutama di negara berkembang sulit dilaksanakan sehubungan dengan biaya, perilaku masyarakat, dan fakta yang menunjukkan bahwa infeksi filarial memerlukan waktu yang lama antara 10 – 20 tahun.   Berbagai penelitian berbasis komunitas menunjukkan bahwa pemberian antifilaria DEC setiap tahun dalam  dosis tunggal atau melalui garam yang mengandung DEC ( DEC medicated salt ) selama 4 – 6 tahun menunjukkan penurunan penularan , bahkan bukan tidak mungkin suatu saat dapat mengeradikasi penyakit. Pemberian  DEC medicated salt terbukti berhasil dalam pemberantasan filariasis di China dan Taiwan.
2.3.          Loa- loa
2.3.1.             Klasifikasi
Kingdom            : Animalia
Phylum   : Nemathoda
Kelas       : Chromadorea
Subkelas : Secernantea
Ordo       : Filarioidae
Family     : Onchocercidae
Genus     : Loa
Species    : Loa- loa
2.3.2.             Epidemiologi, Distribusi Geografik, dan Penyakit terkini
Daerah endemi adalah daerah lalat Chrysops silacea dan Chrysops dimidiata. Untuk pertama kali, pada tahun 1770, Mongin mengeluarkan cacing dewasa Loa-loa dari mata seorang perempuan negro di Sianto Domingo. Parasit ini hanya ditemukan pada manusia. Penyakinya disebut Loaiasis atau calabar swelling (fugitive swelling). Loaiasis terutama terdapat di Afrika, Afrika Tengah dan Sudan.
Distribusi geografis parasit ini tersebar di daerah khatulistiwa di hutan yang berhujan (rain forest) dan sekitarnya; ditemukan di Afrika tropik bagian barat dari Sierra Leonne sampai Angola lembah sungai kongo, Republik Kongo, Kamerun dan Nigeria bagian Selatan.
2.3.3.             Morfologi dan Daur Hidup
Cacing dewasa hidup dalam jaringan subkutan, yang betina berukuran 50-70 x 0,5 mm dan yang jantan berukuran 30-34 x 0,35-0,43 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang beredar dalam darah pada siang hari (diurna). Pada malam hari mikrofilaria berada dalam pembuluh darah paru. Mikrofilaria mempunyai sarung berukuran 250-300 mikron x 6-8,5 mikron, dapat ditemukan dalam urin, dahak dan kadang – kadang ditemukan dalam cairan sum-sum tulang belakang. Adapun vektor dari Loa-loa adalah jenis lalat dari genus Tabanus. Ada dua jenis vektor yang menonjol dari genus Chrysops yakni C. silicea dan C. dimidiata. Spesies hanya terdapat di Afrika dan sering dikenal dengan deerflies atau mangroveflies.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmKHgidxK6aeAoutl7w_L-KrZYZQAGaleXP6hCxZEod45Lr60kFjZIQ2Djm4fjicLxFAxaaIbijmzimhyTHI8M1bxPtGMQ_RPkAP6SexFHZr32CcRAUKth4WcLoEVl8AUrqfRD_kRe3tk/s320/sik.gif
Sumber: http://www.dpd.cdc.gov
Chrysops spp merupakan lalat yang berukuran kecil, panjangnya 5-20 mm, dengan ukuran kepala besar dan betuk mulut yang condong ke bawah. Sayapnya polos atau berbintik cokelat. Mereka merupakan penghisap darah dan biasanya hidup di daerah hutan tropis dan habitat berlumpur seperti, rawa-rawa, sungai, dan waduk. Gigitan lalat Chrysops sangat menyakitkan, dan dapat mengakibatkan bekas gigitan yang lebih parah dari gigitan lalat biasa. Parasit ini ditularkan oleh lalat Chrysops. Mikrofilaria yang beredar dalam darah diisap oleh lalat dan setelah kurang lebih 10hari di dalam badan serangga, mikrofilaria tumbuh menjadi larva efektif dan siap ditularkan kepada hospes lainnya. Cacing dewasa tumbuh dalam badan manusia dalam waktu 1 sampai 4 tahun setelah berkopulasi dan cacing dewasa betina mengeluarkan mikrofilaria.
2.3.4.             Patologi
Cacing dewasa yang mengembara dalam jaringan subkutan dan mikrofilaria yang beredar dalam darah seringkali tidak menimbulkan gejala. Cacing dewasa dapat ditemukan diseluruh tubuh dan seringkali menimbulkan gangguan konjungtiva mata dan pangkal hidung dengan menimbulkan iritasi pada mata, mata sembab, sakit, pelupuk mata menjadi bengkak sehingga mengganggu penglihatan. Secara psikis, pasien menderita.
Pada saat-saat tertentu penderita menjadi hipersensitif terhadap zat sekresi yang dikeluarkan oleh cacing dewasa dan menyebabkan reaksi radang bersifst temporer. Kelainan yang khas ini dikenl dengan calabar swelling atau fugitive swelling. Pembengkakan jaringan yang tidak sakit dan non pitting ini dapat menjadi sebesar telur ayam. Lebih sering terdapat ditangan atau lengan dan sekitarnya.timbulnya secara spontan dan menghilang setelah beberapa hari atau seminggu sebagai manifestasi supersensitif hospes terhadap parasit. Masalah utama adalah bila cacing masuk ke otak dan menyebabkan ensefalitis. Cacing dewasa dapat pula ditemukan dalam cairan serebrospinal pada orang yang menderita meningoensefalitis.
2.3.5.             Pencegahan dan Penanganan
Pencegahan agar tidak terkena infeksi parasit ini dapat dilakukan dengan cara menghindari gigitan Lalat, pemberian obat-obatan sebulan sekali, dan jangan sering-sering masuk hutan.
Sedangkan untuk pengobatan jika terkena infeksi cacing jenis ini adalah dengan langkah-langkah, seperti penggunaan dietilkarbamasin (DEC) dosis 2 mg/kg BB/hari, 3 x sehari selama 14 hari, cacing dewasa didalam mata harus dikeluarkan dengan pembedahan yang dilakukan oleh seorang ahli, saat ini mulai dicoba pengobatan dengan invermectin.
2.4.          Onchocerca volvulus
2.4.1.             Klasifikasi
Kingdom            : Animalia
Phylum   : Nematoda
Class       : Secementea
Ordo       : Spirurida
Family     : Onchocercidae
Genus     : Onchocerca
Species    : Onchocerca volvulus

2.4.2.             Epidemiologi, Distribusi Geografik, dan Penyakit terkini
Tempat perindukan vektor (Simulium) terdapat di daerah pegunungan yang mempunyai air sungai yang deras. Lalat ini suka menggigit manusia di sekitar sungai tempat perindukannya. Penyakit ditemukan baik pada orang dewasa maupun pada anak. Infeksi yang menahun seringkali diakhiri dengan kebutaan. Kebutaan terjadi pada penduduk yang berdekatan dengan sungai, makin jauh dari sungai kenutaan makin kurang oleh karena itu penyakit ini dikenal dengan river blindness (Supali, dkk, 2008).
Parasit ini banyak ditemukan pada penduduk afrika, dari pantai barat Sierra Leone menyebar ke republik kongo. Angola, sudan sampai afrika timur. Di amerika tengah terbatas di daratan tinggi sepanjang sungai tempat perindukan lalat simulium. Di amerika selatan terdapat di dataran tinggi guetemala, mexico dan bagian timur venezuela (Oparaa dan Fagbemi, 2008).
2.4.3.             Morfologi
Cacing betina berukuran 33,5-50 cm x270-400 mikron dan cacing jantan 19-42 mm x 130-210 mikron. Bentuknya seperti kawat berwarna putih, opalesen dan transparan. Mikrofilaria mempunyai dua macam ukuran yaitu 285-368 x6-9 mikron dan 150-287 x 5-7 mikron. Bagian kepala dan ujung ekor tidak ada inti dan tidak mempunyai sarung (Supali, dkk, 2008).
2.4.4.             Daur Hidup
Sumber: http://www.dpd.cdc.gov
Bila lalat Simulium menusuk kulit dan mengisap darah manusia maka mikrofilaria akan terisap oleh lalat, kemudian mikrofilaria menembus lambung lalat, masuk ke dalam otot toraks. Setelah 6 – 8 hari berganti kulit dua kali dan menjadi larva infektif. Larva infektif masuk ke dalam probosis lalat dan dikeluarkan bila lalat mengisap darah manusia. Larva masuk lagi ke dalam jaringan ikat menjadi dewasa dalam tubuh hospes dan mengeluarkan mikrofilaria. Mikrofilaria tersebut menimbulkan kerusakan organ-organ tubuh manusia yang diserangnya.

2.4.5.             Patologi
Pada Onchocerciasis terdapat dua proses patologi, yaitu : (1) Cacing dewasa yang tinggal pada daerah pertemuan saluran limfe, jaringan subkutan yang dibatasi oleh jaringan fibrosis, biasanya tidak menunjukkan gejala klinis yang nyata. (2) Mikrofilaria yang dikeluarkan induknya kemudian masuk ke dalam kelenjar limph  kutis dan subkutis. Dalam beberapa kasus mikro filaria bermigrasi ke bola mata, sering dihubungkan dengan terjadinya lesimikrofilarianya dan atau metabolik dari cacing dewasa dan mikrofilaria bertanggung jawab untuk terjadinya kerusakan saraf mata yang irreversible.dengan adanya pematangan cacing di dalam kulit akan timbuk reaksi lokal sehingga timbul nodul fibrosis yang membatasi gerak parasit tersebut. Lesi primer khas, yaitu terbentuknya nodul, terdiri atas jaringan fibrosa yang di bentuk kurang dari satu tahun. Pada perabaan, nodul ini keras padat, permukaannya putih ke abu-abuanserta mengandungsera mengandung dua atau lebih cacing dewasa dan banyak mikrofilaria (Djaenudin, 2009).
    Kelainan yang disebabkan oleh cacaing dewasa merupakan benjolan yang disebabkan oleh cacing dewasa merupakan benjolan-benjolan yang dikenal sebagai onkoserkoma dalan jaringan subkutan. Ukuran benjolan bermacam-macam dari yang kecil sampai yang sebesar lemon. Jumlah benjolanpun bermacam-macam dari yang sedikit sampai yang lebih dari seratus. Letak benjolan biasanya diatas tonjolan-tonjolan tulang seperti pada skapula, iga, tengkorak, siku, krista iliaka, lutut dan sakrum dan menyebabkan kelainan kosmetik. Benjoalan dapat di gerak-gerakkan dan tidak terasa nyeri.
2.4.6.             Pencegahan dan Penanganan
Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari gigitan lalat Simulium dan memakai pakaian tebal yang menutupi seluruh tubuh Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari gigitan lalat Simulium dan memakai pakaian tebal yang menutupi seluruh tubuh.
Obat yang dipakai adalah Ivermectin baik untuk pengobatan masal maupun selektif. Ivermectin merupakan obat pilihan dengan dosis 150 ug/kg berat badan, diberikan satu atau dua kali per tahun pada pengobatan masal. Untuk pengobatan individu, dapat diberikan pada dosis 100 – 150 ug/kg berat badan dan diulang setiap 2 minggu, bulan atau 3 bulan hingga mencapai dosis total 1,8 mg/kg berat badan. Obat ini tidak diberikan kepada anak-anak di bawah 5 tahun atau beratnya kurang dari 15 kg, ibu hamil, menyusui, atau orang dengan sakit berat. Ivermectin (Mectizan) mempunyai efek yang kuat dalam membunuh mikrofilaria. Efek samping (mirip Mazotti reaction pada pemberian DEC), jarang terjadi dan jauh lebih ringan berupa : gatal-gatal, erupsi kulit, nyeri otot tulang, edema tungkai dan wajah, demam, pembesaran kelenjar disertai nyeri. Efek samping dapat diatasi dengan analgesik dan kortikosteroid. Pada pemberian selanjutnya efek samping semakin berkurang. Ivermectin mempunyai efek yang kuat dalam membunuh mikrofilaria tapi tidak terhadap cacing dewasa.
Suramin merupakan satu-satunya obat yang membunuh cacing dewasa O.volvulus tetapi jarang dipakai mengingat cara pemberiannya yang relatif sulit dan toksiksitasnya tinggi.
Penggunaannya hanya : untuk pengobatan kuratif yang selektif di daerah yang tak ada transmisi atau pada orang yang meninggalkan daerah endemik O.volvulus dan pada kasus-kasus onkodermatitis hiperreaktif dan berat dimana gejala-gejala tak dapat dikendalikan dengan ivermectin dosis berulang.
Diethylcarbamazine (DEC) hanya membunuh mikrofilariae. Dietilkarmabasin tidak lagi dipakai mengingat efek sampingnya yang berat.

2.5.          Dracunculus medinensis (cacing guinea)
2.5.1.             Klasifikasi
Kingdom                        : Animalia
Phylum               : Nemathelminthes
Class                   : Nematoda
Order                  : Camallanidae
Superfamily        : Dracunculoidea
Family                 : Dracunculidae
Genus                 : 
Dracunculus
Species                : 
Dracunculus medinensis
2.5.2.             Epidemiologi, Distribusi Geografik, dan Penyakit terkini
Dracunculiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang Dracunculus medinensis. Yang menyebabkan rasa sakit, luka kulit meradang dan radang sendi yang melemahkan.  Infeksi tersebut terjadi sebagian besar pada jalur sempit melintasi beberapa negara di daerah Afrika Selatan dan di Yaman dan hanya berlangsung pada musim tertentu.
2.5.3.             Morfologi
Cacing ini berbentuk silindris dan memanjang  seprti benang. Permukaan tubuh berwarna  putih susu dengan kutikula yang halus. Ujung anterior berbentuk bulat tumpul sedangkan  ujung posterior melengkung membentuk kait. Memiliki mulut yang kecil dan ujung anteriornya  dikelilingi paling sedikit 10 papila. Cacing jantan panjangnya 12-40 mm dan lebarnya 0,4 mm Cacing betina panjangnya 120 cm dan lebarnya1-2 mm. Cacing dewasanya hidup di dalam jaringan ikat dan jaringan subcutan. Penularan dapat terjadi bila orang minum air yang mengandung larvanya.
2.5.4.             Daur Hidup
Sumber: http://www.dpd.cdc.gov

Bila manusia meminum air mentah mengandung cyclops yang telah terinfeksi oleh larva cacing ini  menetas lalu menembus dinding usus menuju jaringan bawah kulit, jantung atau otak. Setahun kemudian, cacing yang telah dewasa akan bereproduksi dan bergerak menuju permukaan kulit (umumnya tangan atau kaki), jantan akan mati setelah 3-7 bulan setelah infeksi. Betina yang akan bereproduksi akan menimbulkan bercak merah yang terasa sangat panas lalu menimbulkan luka terbuka pada anggota badan tersebut. Pada saat bagian tubuh yang terluka itu direndam air (untuk mengurangi rasa panas yang ditimbulkan)  cacing betina dewasa akan keluar (dapat dilihat dengan mata) dari luka tersebut dan melepaskan larva muda   kemudian larva muda mencari Cyclops dan siklus kembali terulang.  setelah proses ini terselesaikan, betina akan mati, apabila tidak dapat keluar dari tubuh maka cacing tersebut akan terkristalisasi didalam tubuh inangnya. Luka terbuka yang diakibatkan oleh penetrasi cacing ini memiliki potansi yang besar terkena infeksi bakteri sekunder (bakteri tetanus,bakteri pemakan daging dsb) apabila tidak diobati secara tepat.
2.5.5.   Patologi
Orang menjadi terinfeksi dengan meminum air yang mengandung semacam binatang air yang terinfeksi berkulit keras yang kecil, yang selanjutnya menjadi hunian untuk cacing tersebut. setelah penyerapan, crustacean mati dan melepaskan larva, yang menembus dinding usus. Larva matang menjadi cacing dewasa sekitar 1 tahun. Setelah dewasa, cacing betina bergerak melalui jaringan di bawah kulit, biasanya menuju kaki. Di sana, mereka membuat bukaan pada kulit sehingga ketika mereka melepaskan larva, larva tersebut bisa meninggalkan tubuh, masuk ke air, dan menemukan hunian crustacean. Jika larva tidak mencapai kulit, mereka mati dan hancur atau mengeras (calcify) di bawah kulit.
Gejala-gejala diawali ketika cacing tersebut menembus kulit. Sebuah lepuhan terbentuk pada bukaan. Daerah di sekitar lepuhan gatal, terbakar, dan meradang-bengkak, merah, dan menyakitkan. Material yang dilepaskan cacing tersebut bisa menyebabkan reaksi alergi, yang bisa mengakibatkan kesulitan bernafas, muntah, dan ruam yang gatal. Gejala-gejala reda dan lepuhan tersebut sembuh setelah cacing dewasa meninggalkan tubuh. pada sekitar 50% orang, infeksi bakteri terjadi di sekitar bukaan karena cacing tersebut. Kadangkala persendian dan tendon di sekitar lepuhan rusak.
2.5.6.             Pencegahan dan Penanganan
Biasanya, cacing dewasa pelan-pelan diangkat lebih dari sehari sampai seminggu dengan memutarnya pada sebuah batang. Cacing tersebut bisa diangkat dengan cara operasi setelah bius lokal digunakan, tetapi pada banyak daerah, metode ini tidak tersedia. Orang yang juga mengalami infeksi bakteri kadangkala diberikan metronidazole untuk mengurangi peradangan.
Cara pencegahannya meliputi :  Penyaringan air minum melalui kain katun tipis,  merebus air hingga mendidih sebelum  digunakan, dan hanya meminum air berklorin membantu mencegah dracunculiasis.


BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
   Berdasarkan pemaparan dari Bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa Nematoda parasit jaringan adalah parasit yang hidup pada jaringan hospesnya, pada nematoda ini hospesnya adalah manusia. Nematoda yang termasuk pada parasit jaringan diantaranya adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia Timori, Loa- loa, Onchocerca volvulus, dan Dracunculus medinensis (cacing guinea).
Parasit jaringan dari kelas nematoda ini kebanyakan di bawa oleh vektor yang membawa larva cacing parasit ini, misalnya vektor biologis/hospes perantaraan untuk Wuchereria bancrofti adalah dari genus : Culex, Anopheles dan Aedes, B.malayi yang hidup pada manusia ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris dan yang hidup pada manusia dan hewan ditularkan oleh nyamuk Mansonia. B.timori ditularkan oleh nyamuk An.barbirostris, cacing loa- loa tersendiri  dibawa oleh vektor lalat tse-tse, vektor simulium blackfly merupakan fektor yang membawa Onchocerca volvulus, dan Dracunculus medinensis dibawa oleh sejenis hewan air yang mana larva cacing ini menempel.
3.2. Saran
   Agar tidak terpapar parasit ini hendaknya menjaga sanitasi lingkungan dan menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari, selain itu hendaknya memakai pakaian yang melindungi seluruh tubuh agar terhindar gigitan vektor yang membawa larva dari cacing kelas ini.

DAFTAR PUSTAKA
Astiti, Prima Okta Indri dan Tri Wulandari Kesetyaningsih. 2007. Studi Prevalensi Mikrofilremia beserta Faktor Perilaku Masyarakat di Kelurahan Puluhan dan Kelurahan Gempol, Kabupaten Klaten. http://publikasi.umy.ac.id/-index.php/pend-dokter/article/view/4784/4102 Diakses pada 15 Maret 2013
Entjang, Indan. 2011. Mikrobiologi dan Parasitologi. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti
Eze, Jonathan dan Matur Bernard Malau. 2011. Assessment Of The Epidemiology Of Onchocerca Volvulus After Treatment With Ivermectin In The Federal Capital Territory, Abuja, Nigeria. www.arpapress.com/Volumes/Vol7Issue3/IJRRAS-_7_3_12.pdf Diakses pada 18 Maret 2013
Muslim. 2009. Parasitologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
Natadisastra, Djaenudin. 2009. Parasitologi kedokteran. Jakarta: EGC
Onggowaluyo. Jangkung Samidjo. 2002. Parasitologi Medik 1. Jakarta: EGC
Oparaa, K.N. dan B.O. 2008. Fagbemi. Population Dynamics of Onchocerca Volvulus Microfilariae in Human Host After Six Years of Drug Control;  J Vector Borne Dis 45, March 2008, pp. 29–37. http://www.mrcindia.org/journal/issues/-451029.pdf  Diakses pada 19 Maret 2013
Staf  Pengajar Departemen Parasitologi FK UI. 2008. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

About the author

Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

2 comments: