Nematoda
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
belakang
Cacing Nematoda berasal dari bahasa Yunani, Nema
artinya benang. Cacing nematoda adalah cacing yang bentuknya panjang,
silindrik, tidak bersegmen dan tubuhnya bilateral simetrik, panjang cacing ini
mulai dari 2 mm sampai 1 m. Nematoda adalah hewan multiseluler yang paling banyak
jumlahnya di bumi dan terdapat hampir di seluruh habitat dan beberapa juga
terdapat di tempat yang tidak biasa seperti sumber mata air panas, es, laut
dalam, dan lingkungan berasam dan dengan kadar oksigen rendah. Kelimpahannya
mencapai jutaan individu per m2 tanah pada tanah dan sedimen dasar perairan. Nematoda
memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga kelestarian tanah, salah
satunya adalah sebagai dekomposisi material racun atau secara istilah disebut
bioremediasi. Nilai nematoda sebagai bioremediasi tanah ini sangatlah penting.
Jika dihitung dengan rupiah maka akan didapatkan seberapa pentingnya hewan
kecil ini bagi tanah dan tentunya bagi manusia.
Mikrofilaria dapat ditemukan dalam darah pada malam hari dan siang hari,
tetapi ditemukan dalam jumlah besar pada malam hari dan lebih banyak ditemukan
dalam kapiler dan pembuluh darah paru-paru (Onggowaluyo, J.S, 2002).
Nematoda yang hidup sebagai parasit
di dalam darah dan jaringan terdiri atas tiga kelompok, yaitu (1) Cacing
Filaria dan dracunculus, (2) Invasi larva migrans di dalam kulit serta alat
dalaman, (3) Nematoda yang jarang didapat, di dalam jaringan hati, ginjal,
paru-paru, mata, dan subkutis. Cacing nematoda darah dan jaringan memiliki
morfologi dasar yang sama dengan cacing nematoda lainnya (Muslim, 2009).
1.2.
Tujuan
1.2.1.
Mengetahui
tentang klasifikasi pada Nematoda parasit jaringan
1.2.2.
Mengetahui
tentang epidemiologi, distribusi geografik dan kondisi penyakit terkini pada
Nematoda parasit jaringan
1.2.3.
Mengetahui
tentang morfologi pada Nematoda parasit jaringan
1.2.4.
Mengetahui
tentang siklus hidup pada Nematoda parasit jaringan
1.2.5.
Mengetahui
patologi pada pada Nematoda parasit jaringan
1.2.6.
Mengetahui
pencegahan dan pengendalian pada pada Nematoda parasit jaringan
BAB II
ISI
Nematoda darah atau dikenal sebagai Nematoda filaria, cara filaria
menginfeksi manusia yaitu melalui gigitan vektor Arthopoda, misalnya
nyamuk.Vektor ini menjadi infektif karena menelan mikrofilaria yang berada
dalam darah mamalia. Setiap spesies filaria mempunyai pola daur hidup yang
kompleks. Infeksi pada manusia terjadi apabila terkena pemaparan larva infektif
secara intensif dalam jangka waktu lama. Setelah pemaparan, diperlukan waktu
bertahun-tahun untuk terjadinya perubahan patologis nyata pada manusia
(Onggowaluyo,J.S, 2002).
Berberapa spesies yang termasuk
nematoda parasit jaringan antara lain Wuchereria
bancrofti, Brugia malayi
dan Brugia Timori, Loa- loa, Onchocerca volvulus, dan Dracunculus medinensis (cacing guinea).
2.1.
Wuchereria bancrofti
2.1.1.
Klasifikasi
Kingdom
: Animalia
Filum
: Nematoda
Kelas
: Secementea
Ordo
: Spirurida
Genus : Wuchereria
Spesies : Wuchereria bancrofti
2.1.2.
Epidemiologi,
Distribusi Geografik, dan Penyakit terkini
Parasit
ini tersebar luas di daerah tropik dan subtropik, meluas jauh ke utara sampai
Spanyol dan ke selatan sampai Brisbane, Australia. Di sebelah timur dunia dapat
ditemukan di Afrika, Jepang, Taiwan, Filipina, Indonesia dan kepulauan Pasifik
Selatan. Di belahan barat dunia di hindia barat, Costa Rica dan sebelah utara
Amerika Selatan. Frekuensi filariasis yang bersifat periodik, berhubungan
dengan kepadatan penduduk dan kebersihan yang kurang, karena culex quinguefascialus
sebagai vektor utama, terutama membiak di dalam air yang dikotori dengan air
got dan bahan organik yang telah membusuk. Di Daerah Pasifik Selatan frekuensi
Filariasis nonperiodik di daerah luar kota sama tingginya atau lebih tinggi
dari pada di desa-desa besar karena vektor terpenting ialah Aedes
Polynesiensis, seekor nyamuk yang biasanya hidup di semak-semak. Frekuensi
berbeda-beda menurut suku bangsa, umur, jenis kelamin, terutama berhubungan
dengan faktor lingkungan. Orang Eropa, yang lebih terlindung terhadap nyamuk,
mempunyai frekuensilebih rendah daripada penduduk_asli.
Vektor utama di belahan Barat Dunia ialah Culex quinquefanciatus dan di Pasifik Selatan Aedes Polynesiensis. Nyamuk Culex quinquefanciatu menggigit pada malam hari, hidup di rumah dan daerah kota, sedangkan nyamuk Aedes Polynesiensis menggigit pada siang hari, hidup di luar rumah dan di daerah hutan. Di daerah Pasifik Selatan filariasis nonperiodik berbeda dengan yang periodik atas dasar perbedaan geografis dan perbedaan-perbedaan kecil pada cacing dewasanya. Periodisitas tidak berubah walaupun orang yang terkena infeksi berpindah ke daerah nonperiodik. Di Indonesia filariasis tersebar luas di daerah endemi terdapat di banyak pulau di seluruh Nusantara, seperti di Sumatera dan sekitarnya, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Irian Jaya. Untuk dapat memahami epidemiologi filariasis, kita perlu memperhatikan faktor-faktor seperti hospes, hospes reservoar, vektor, dan keadaan lingkungan (Djaenudin, 2009).
Vektor utama di belahan Barat Dunia ialah Culex quinquefanciatus dan di Pasifik Selatan Aedes Polynesiensis. Nyamuk Culex quinquefanciatu menggigit pada malam hari, hidup di rumah dan daerah kota, sedangkan nyamuk Aedes Polynesiensis menggigit pada siang hari, hidup di luar rumah dan di daerah hutan. Di daerah Pasifik Selatan filariasis nonperiodik berbeda dengan yang periodik atas dasar perbedaan geografis dan perbedaan-perbedaan kecil pada cacing dewasanya. Periodisitas tidak berubah walaupun orang yang terkena infeksi berpindah ke daerah nonperiodik. Di Indonesia filariasis tersebar luas di daerah endemi terdapat di banyak pulau di seluruh Nusantara, seperti di Sumatera dan sekitarnya, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Irian Jaya. Untuk dapat memahami epidemiologi filariasis, kita perlu memperhatikan faktor-faktor seperti hospes, hospes reservoar, vektor, dan keadaan lingkungan (Djaenudin, 2009).
Distribusi
geografis cacing Wuchereria bancrofti
yaitu : Parasit ini tersebar luas di daerah yang beriklim tropis diseluruh
dunia dan terdapat di Indonesia. Di belahan barat dunia dan ada di daerah
perkotaan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus.Di Pasifik Selatan dan ada di daerah
pedesaan oleh nyamuk Aides Polynesiensis.
Di Indonesia, penyakit ini ditemukan dengan prevalensi rendah di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Lombok. Nyamuk Anopheles_ dan Culex merupakan vector yang menggigit pada malam hari untuk
tipe W. bracofti periodic nokturna, sedangkan galur yang subperiodik
ditukarkan oleh nyamuk Aedes yang menggigit pada siang hari. Di daerah
endemic, pemaparan dimulai pada masa anak – anak, angka mikrofilaria meningkat
bersama dengan meningkatnya umur, meskipun infeksi tidak disertai dengan gejala
klinis yang nyata (Djaenudin, 2009).
2.1.3.
Morfologi
Cacing dewasa berwarna putih
kekuning-kuningan, lapisan luarnya diliputi kutikula halus, memiliki bentuk
silindris seperti benang, kedua ujung tumpul, bagian anterior membengkak, terdapat
mulut berupa lubang sederhana tanpa bibir ataupun alat lainnya, langsung menuju
esofagus dengan sebuah rongga bukal tetapu tanpa tonjolan maupun konstriksi
seperti tanda khas yang terdapat pada beberapa nematoda (Muslim, 2009).
Cacing jantan ukurannya lebih kurang
40mm x 0,1mm, ujung kaudal melengkung ke ventral, didapat 12 pasang papila
perianal, terdiri atas 8 pasang preanal dan 4 pasang posanal. Terdapat 2
spikula dengan guberkulum yang bebentuk bulan sabit (Djaenudin, 2009).
Cacing betina berukuran 80-100mm x 0,24-0,30mm, vulva terletak di
daerah servikal, vagina pendek dengan sebuah segmen keluar dari uterus
selanjutnya organ genitalia ini berpasangan. Embrio yang masih muda terdapat di
bagian dalam uterus dilapisi lapisan hialin yang tipis, lebih kurang berukuran
38-25m, jika terdorong ke bagian uterus, bungkusnya memanjang menyesuaikan
dengan bentuk embrio sampai embrio lahir tetap terbungkus sarung, embrio ini
disebut mikrofilaria (Muslim, 2009).
2.1.4.
Daur
Hidup

Dalam Tubuh Manusia (Definitif host) :
Cacing dewasa berada dalam saluran dan kelenjar
lymphe, setelah kawin cacing betina akan melahirkan mikrofilaria (ovo vivipar)
sesuai dengan sifat periodisitasnya mikrofilaria-mikrofilaria tersebut akan
berada di darah tepi . Bila kebetulan ada nyamuk yang sesuai menggigit
penderita tersebut, maka mikrofilaria akan ikut terhisap bersama darah
penderita dan masuk ke tubuh nyamuk. Didalam tubuh manusia mikrofilaria dapat
bertahan hidup lama tanpa mengalami perubahan bentuk (Muslim, 2009).
Dalam Tubuh Intermediate host :
Nyamuk yang berperan sebagai vektor biologis/hospes
perantaraan untuk Wuchereria bancrofti adalah dari genus : Culex,
Anopheles,Aedes. Mikrofilaria yang terhisap masuk pada saat terjadinya gigitan,
sesampai di lambung nyamuk akan melepaskan sheathmya. Dalam waktu 1-2 jam
kemudian ia menembus dinding usus nyamuk menuju ke otot-otot thorax untuk
mengadakan metamorfosis. Dalam waktu kurang lebih 2 hari mikrofilaria akan
tumbuh menjadi larva stadium I (l24-250 mikron X 10-17 mikron) dan 3-7 hari kemudian
menjadi larva stadium II yang panjangnya (225-330 mikron dan lebar 15-30
mikron) dan pada hari ke 10-11 pertumbuhan larva dapat dikatakan telah lengkap
menjadi larva stadium III dengan ukuran panjang 1500-2000 mikron dan lebarnya
18-23 mikron), yaitu stadium yang infektif untuk manusia. Larva tersebut
bermigrasi ke kelenjar ludah (proboscis). dan siap untuk ditularkan bila nyamuk
tersebut menggigit manusia lagi (Muslim, 2009).
2.1.5.
Patologi
Perubahan patologi yang utama
terjadi akibat kerusakan inflamatorik pada sistem limfatik yang disebabkan oleh
cacing dewasa, bukan mikrofilaria. Cacing dewasa ini hidup dalam saluran
limfatik aferen atau sinus – sinus limfe sehingga menyebabkan dilatasi limfe.
Dilatasi ini mengakibatkan penebalan pembuluh darah di sekitarnya. Akibat
kerusakan pembuluh darah, terjadi infiltrasi sel plasma, eosinofil, dan
makrofag di dalam dan sekitar pembuluh darah yang terinfeksi dan bersama dengan
proliferasi endotel serta jaringan ikat, menyebabkan saluran limfatik berkelok
– kelok serta katup limfatik menjadi rusak. Limfedema dan perubahan statis yang
kronik terjadi pada kulit diatasnya.
Selain itu, gejala filariasis disebabkan oleh cacing dewasa baik yang hidup maupun yang mati atau yang telah mengalami degeneasi. Filarisasi bancrofti dapat berlangsung selama beberapa tahun sehingga dapat mempunyai gambaran klinis yang berbeda-beda. Reaksi pada manusia terhadap infeksi filaria berbeda dan beraneka ragam dan tidak mungkin stadium penyakit di batasi dengan pasti (Gandahusada, 1998).
Selain itu, gejala filariasis disebabkan oleh cacing dewasa baik yang hidup maupun yang mati atau yang telah mengalami degeneasi. Filarisasi bancrofti dapat berlangsung selama beberapa tahun sehingga dapat mempunyai gambaran klinis yang berbeda-beda. Reaksi pada manusia terhadap infeksi filaria berbeda dan beraneka ragam dan tidak mungkin stadium penyakit di batasi dengan pasti (Gandahusada, 1998).
Pertama, Filariasis Tanpa Gejala. Di daerah endemik, pada anak-anak
berumur 6 tahun telah dapat ditemukan mikrofilaria didalam daerah tanpa
menimbulkan gejala yang menunjukkan adanya infeksi ini. Bahkan, pada waktu
cacing dewasa mati microfilaria menghilang, penderita tetap tidak menyadari
akan adanya infeksi.
Kedua, Filariasis dengan Peradangan. Infeksi filaria dengan
peradangan merupakan fenomena alergi berdasarkan kepekaan terhadap metabolit
cacing dewasa yang hidup dan yang mati. Funiculitis , Epidydimitis, Orchitis,
Limforgitis retrograde dari anggota tubuh, pembengkakakn setempat dan kemerahan
lengan dan tungkai merupakan gejala-gejala yang khas dari serangan yang
berulang-ulang. Demam menggigil, sakit kepala, muntah dapat menyertai serangan
tadi, yang berlangsung antara beberapa hari sampai beberapa minggu. Yang
terutama terkena ilah saluran limfe tungkai dan alat genital. Pada laki-laki
umumnya terdapat Limfongitis akut dari funiculus spermaticus (funiculitis)
disertai penebalan dan rasa nyeri, Epydidimitis, jaringan retroperitoneal,
kelenjar ari-ari, dan otot ileo-psoas juga dapat terjadi karena cacing yang
mati dan mengalami degenerasi.
Ketiga, Filariasis dengan Penyumbatan. Gejala akhir yang dramatic
pada filarisasi ialah elephantiasis. Penyumbatan pada filariasis terjadi
perlahan-lahan, biasanya setelah terkena infeksi dengan filarial secara
terus-menerus selama bertahun-tahun. Kelainan ini didahului oleh edema menahun
dan sering juga oleh serangan peradangan akut yang berulang-ulang.
Dalam stadium menahun reaksi reaksi sel dan sembab diganti oleh hiperplasi fibroblast. Terhadap penyerapan dan pergantian parasit oleh jaringan granulasi yang proliferative. Dibentuk varises saluran limfe yang luas. Kadar protein yang tinggi didalam limfe merngsang pembentukan jaringan ikat kulit dan kolagen, dan sedikit demi sedikit setelah bertahun-tahu. Bagian yang membesar menjadi keras dan timbul elephantiasis menahun. Elephanthiatis pada umumnya mengenai tungkai dan alat kelamin dan menyebakan perubahan bentuk yang luas (Gandahusada, 1998).
Dalam stadium menahun reaksi reaksi sel dan sembab diganti oleh hiperplasi fibroblast. Terhadap penyerapan dan pergantian parasit oleh jaringan granulasi yang proliferative. Dibentuk varises saluran limfe yang luas. Kadar protein yang tinggi didalam limfe merngsang pembentukan jaringan ikat kulit dan kolagen, dan sedikit demi sedikit setelah bertahun-tahu. Bagian yang membesar menjadi keras dan timbul elephantiasis menahun. Elephanthiatis pada umumnya mengenai tungkai dan alat kelamin dan menyebakan perubahan bentuk yang luas (Gandahusada, 1998).
2.1.6.
Pencegahan
dan Penanganan
Pencegahan terhadap wuchereriasis di
daerah endemic meliputi pemberantasan nyamuk dan mematikan parasit dalam badan
manusia yang merupakan sumber infeksi. Penyemprotan residu di dalam rumah dan
pemakaian larvisida dapat berhasil terhadap Culex quinquefasciatus dan nyamuk
domestic lainnya. Akan tetapi cara pemberantasan ini tidak efektif terhadap
nyamuk yang hidup di daerah rimba seperti Aides polynesiensis. Pemberian
Hetrazan secara masal untuk membasmi microfilaria di dalam darah para
pengandung dan pemakaian insektisida untuk pemberantasan nyamuk berhasil baik
di St.Croix, Virgin Islands dan Tahiti. Perlindungan manusia dengan menutup
ruangan dengan kasa kawat, kelambu tempat tidur, “repellent” nyamuk, pakaiann
yang melindungi, merupakan persoalan ekonomi dan pendidikan. Obat DEC tidak
mempunyai khasiat pencegahan oleh sebab itu penduduk perlu dididik untuk
melindungi dirinya dari gigitan nyamuk (Djaenudin, 2009).
2.2.
Brugia malayi dan Brugia Timori
2.2.1.
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Nematoda
Class : Secernentea
Order : Spirurida
Family : Onchocercidae
Genus : Brugia
Species : Brugia
malayi (Binomial name BuRg, 1927)
Brugia timori (Binomial name Partono et al, 1777)
2.2.2.
Epidemiologi,
Distribusi Geografik, dan Penyakit terkini
B.malayi
dan B.timori hanya terdapat di pedesaan, karena vektornya tidak dapat berkembang biak diperkotaan. B.malayi
yang hanya hidup pada manusia dan B.timori biasanya terdapat di
daerah persawahan, sesuai dengan tempat perindukan vektornya, An.barbirostris.
B.malayi yang terdapat pada manusia dan hewan biasanya terdapat di
pinggir pantai atau aliran sungai, dengan rawa-rawa. Penyebaran B.malayi bersifat
fokal, dari Sumatra sampai ke kepulauan Maluku. B.timori hanya
terdapat di Indonesia bagian Timur yaitu Nusa Tenggara Timur dan Timor-Timur.
Yang terkena penyakit ini terutama adalah petani dan nelayan. Kelompok umur
dewasa muda paling sering terkena penyakit ini, sehingga produktivitas penduduk
dapat berkurang akibat serangan adenolimfangitis yang berulang kali. Cara pencegahan
sama dengan filariasis bankrofti (Inge, 2008).
B.malayi
hanya terdapat di Asia, dari India sampai ke Jepang, termasuk Indonesia. B.timori
hanya terdapat di Indonesia Timur di Pulauu Timur di Pulau Timor, Flores, Rote,
Alor, dan beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara Timur (Inge, 2008).
2.2.3.
Morfologi
Sumber: http://doctorology.net
Cacing dewasa jantan dan betina hidup di
saluran dan pembuluh limfe. Bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih
susu. Yang betina berukuran 21 – 39 mm x 0,1 mm dan yang jantan 13- 23 mm x
0,08 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung. Ukuran
mikrofilaria Brugia timori adalah 280
– 310 mikron x 7 mikron (Inge, 2008).
2.2.4.
Daur
Hidup

Sumber:
http://www.dpd.cdc.gov
Periodesitas mikrofilaria B.malayi adalah periodik nokturna, subperiodik
nokturna atau nonperiodik, sedangkan
mikrofilaria B.timori mempunyai sifat periodik nokturna. B.malayi yang hidup pada
manusia ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris dan yang hidup pada manusia dan hewan
ditularkan oleh nyamuk Mansonia. B.timori ditularkan oleh nyamuk An.barbirostris. daur hidup kedua
parasit ini cukup panjang, tetapi lebih pendek daripada W.bancrofti. Masa
pertumbuhannya di dalam nyamuk kurang lebih 10 hari dan pada manusia kurang
lebih 3 bulan. Di dalam tubuh nyamuk kedua parasit ini juga mengalami dua kali
pergantian kulit, berkembang dari larva stadium I menjadi larva stadium II dan
III, menyerupai perkembangan parasit W.bancrofti didalam tubuh manusia perkembangan kedua
parasit tersebut juga sama dengan perkembangan W.bancrofti (Inge, 2008).
2.2.5.
Patologi
Brugia malayi dan Brugia timori ditularkan oleh An. barbirostris. Didalam tubuh
nyamuk betina, mikrofilaria yang terisap waktu menghisap darah akan melakukan
penetrasi pada dinding lambung dan berkembang dalam otot thorax hingga menjadi
larva filariform infektif, kemudian berpindah ke proboscis. Saat nyamuk
menghisap darah, larva filariform infektif akan ikut terbawa dan masuk melalui
lubang bekas tusukan nyamuk di kulit. Larva infektif tersebut akan bergerak
mengikuti saluran limfa dimana kemudian akan mengalami perubahan bentuk sebanyak
dua kali sebelum menjadi cacing dewasa.
2.2.6.
Pencegahan
dan Penanganan
Pencegahannya adalah dengan cara berusaha
menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vektor, mengurangi kontak dengan vektor,
misalnya dengan menggunakan kelambu bula akan sewaktu tidur, menutup ventilasi
rumah dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk semprot atau obat nyamuk
bakar, mengoles kulit dengan obat anti nyamuk atau dengan cara memberantas
nyamuk, dengan membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat
perindukan nyamuk, menimbun, mengeringkan atau mengalirkan genangan air sebagai
tempat perindukan nyamuk, membersihkan semak-semak di sekitar rumah.
Perlindungan
terhadap filariasis dapat dilaksanakan melalui penghindaran dari gigitan nyamuk
yang mengandung larva cacing filaria. Metoda yang dapat dilakukan
antara lain dengan memakai kelambu, terutama yang mengandung insektisida
seperti permethrin. Yang paling ideal adalah melalui pengendalian/
eradikasi vektor nyamuk dilingkungan pemukiman. Namun kedua cara ini di
sebagian besar belahan dunia terutama di negara berkembang sulit dilaksanakan
sehubungan dengan biaya, perilaku masyarakat, dan fakta yang menunjukkan bahwa
infeksi filarial memerlukan waktu yang lama antara 10 – 20 tahun.
Berbagai penelitian berbasis komunitas menunjukkan bahwa pemberian antifilaria
DEC setiap tahun dalam dosis tunggal atau melalui garam yang mengandung
DEC ( DEC medicated salt ) selama 4 – 6 tahun menunjukkan penurunan penularan ,
bahkan bukan tidak mungkin suatu saat dapat mengeradikasi penyakit.
Pemberian DEC medicated salt terbukti berhasil dalam pemberantasan
filariasis di China dan Taiwan.
2.3.
Loa- loa
2.3.1.
Klasifikasi
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Nemathoda
Kelas :
Chromadorea
Subkelas :
Secernantea
Ordo : Filarioidae
Family : Onchocercidae
Genus : Loa
Species : Loa-
loa
2.3.2.
Epidemiologi,
Distribusi Geografik, dan Penyakit terkini
Daerah endemi adalah
daerah lalat Chrysops silacea dan Chrysops dimidiata. Untuk pertama kali,
pada tahun 1770, Mongin mengeluarkan cacing dewasa Loa-loa dari mata seorang
perempuan negro di Sianto Domingo. Parasit ini hanya ditemukan pada manusia.
Penyakinya disebut Loaiasis atau calabar swelling (fugitive swelling). Loaiasis
terutama terdapat di Afrika, Afrika Tengah dan Sudan.
Distribusi geografis
parasit ini tersebar di daerah khatulistiwa di hutan yang berhujan (rain
forest) dan sekitarnya; ditemukan di Afrika tropik bagian barat dari Sierra
Leonne sampai Angola lembah sungai kongo, Republik Kongo, Kamerun dan Nigeria bagian
Selatan.
2.3.3.
Morfologi
dan Daur Hidup
Cacing dewasa hidup dalam jaringan subkutan,
yang betina berukuran 50-70 x 0,5 mm dan yang jantan berukuran 30-34 x
0,35-0,43 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang beredar dalam darah
pada siang hari (diurna). Pada malam hari mikrofilaria berada dalam pembuluh
darah paru. Mikrofilaria mempunyai sarung berukuran 250-300 mikron x 6-8,5
mikron, dapat ditemukan dalam urin, dahak dan kadang – kadang ditemukan dalam
cairan sum-sum tulang belakang. Adapun vektor dari Loa-loa adalah jenis lalat dari
genus Tabanus. Ada dua jenis vektor yang menonjol dari genus Chrysops yakni C.
silicea dan C. dimidiata. Spesies hanya terdapat di Afrika dan sering dikenal
dengan deerflies atau mangroveflies.

Sumber:
http://www.dpd.cdc.gov
Chrysops spp merupakan
lalat yang berukuran kecil, panjangnya 5-20 mm, dengan ukuran kepala besar dan
betuk mulut yang condong ke bawah. Sayapnya polos atau berbintik cokelat.
Mereka merupakan penghisap darah dan biasanya hidup di daerah hutan tropis dan
habitat berlumpur seperti, rawa-rawa, sungai, dan waduk. Gigitan lalat Chrysops
sangat menyakitkan, dan dapat mengakibatkan bekas gigitan yang lebih parah dari
gigitan lalat biasa. Parasit ini
ditularkan oleh lalat Chrysops. Mikrofilaria
yang beredar dalam darah diisap oleh lalat dan setelah kurang lebih 10hari di
dalam badan serangga, mikrofilaria tumbuh menjadi larva efektif dan siap
ditularkan kepada hospes lainnya. Cacing dewasa tumbuh dalam badan manusia
dalam waktu 1 sampai 4 tahun setelah berkopulasi dan cacing dewasa betina
mengeluarkan mikrofilaria.
2.3.4.
Patologi
Cacing
dewasa yang mengembara dalam jaringan subkutan dan mikrofilaria yang beredar
dalam darah seringkali tidak menimbulkan gejala. Cacing dewasa dapat ditemukan
diseluruh tubuh dan seringkali menimbulkan gangguan konjungtiva mata dan
pangkal hidung dengan menimbulkan iritasi pada mata, mata sembab, sakit,
pelupuk mata menjadi bengkak sehingga mengganggu penglihatan. Secara psikis,
pasien menderita.
Pada
saat-saat tertentu penderita menjadi hipersensitif terhadap zat sekresi yang
dikeluarkan oleh cacing dewasa dan menyebabkan reaksi radang bersifst temporer.
Kelainan yang khas ini dikenl dengan
calabar swelling atau fugitive
swelling. Pembengkakan jaringan yang tidak sakit dan non pitting ini dapat
menjadi sebesar telur ayam. Lebih sering terdapat ditangan atau lengan dan
sekitarnya.timbulnya secara spontan dan menghilang setelah beberapa hari atau
seminggu sebagai manifestasi supersensitif hospes terhadap parasit. Masalah
utama adalah bila cacing masuk ke otak dan menyebabkan ensefalitis. Cacing
dewasa dapat pula ditemukan dalam cairan serebrospinal pada orang yang
menderita meningoensefalitis.
2.3.5.
Pencegahan
dan Penanganan
Pencegahan
agar tidak terkena infeksi parasit ini dapat dilakukan dengan cara menghindari gigitan
Lalat, pemberian obat-obatan sebulan sekali, dan jangan sering-sering masuk hutan.
Sedangkan untuk
pengobatan jika terkena infeksi cacing jenis ini adalah dengan langkah-langkah,
seperti penggunaan dietilkarbamasin (DEC) dosis 2 mg/kg BB/hari, 3 x sehari
selama 14 hari, cacing dewasa didalam mata harus dikeluarkan dengan pembedahan
yang dilakukan oleh seorang ahli, saat ini mulai dicoba pengobatan dengan
invermectin.
2.4.
Onchocerca
volvulus
2.4.1.
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Nematoda
Class : Secementea
Ordo : Spirurida
Family : Onchocercidae
Genus : Onchocerca
Species : Onchocerca volvulus
2.4.2.
Epidemiologi,
Distribusi Geografik, dan Penyakit terkini
Tempat perindukan vektor (Simulium)
terdapat di daerah pegunungan yang mempunyai air sungai yang deras. Lalat ini
suka menggigit manusia di sekitar sungai tempat perindukannya. Penyakit
ditemukan baik pada orang dewasa maupun pada anak. Infeksi yang menahun
seringkali diakhiri dengan kebutaan. Kebutaan terjadi pada penduduk yang
berdekatan dengan sungai, makin jauh dari sungai kenutaan makin kurang oleh
karena itu penyakit ini dikenal dengan river blindness (Supali, dkk,
2008).
Parasit ini banyak ditemukan pada
penduduk afrika, dari pantai barat Sierra Leone menyebar ke republik kongo.
Angola, sudan sampai afrika timur. Di amerika tengah terbatas di daratan tinggi
sepanjang sungai tempat perindukan lalat simulium. Di amerika selatan terdapat
di dataran tinggi guetemala, mexico dan bagian timur venezuela (Oparaa dan
Fagbemi, 2008).
2.4.3.
Morfologi
Cacing betina berukuran 33,5-50 cm
x270-400 mikron dan cacing jantan 19-42 mm x 130-210 mikron. Bentuknya seperti
kawat berwarna putih, opalesen dan transparan. Mikrofilaria mempunyai dua macam
ukuran yaitu 285-368 x6-9 mikron dan 150-287 x 5-7 mikron. Bagian kepala dan
ujung ekor tidak ada inti dan tidak mempunyai sarung (Supali, dkk, 2008).
2.4.4.
Daur
Hidup

Sumber: http://www.dpd.cdc.gov
Bila lalat Simulium
menusuk kulit dan mengisap darah manusia maka mikrofilaria akan terisap oleh
lalat, kemudian mikrofilaria menembus lambung lalat, masuk ke dalam otot
toraks. Setelah 6 – 8 hari berganti kulit dua kali dan menjadi larva infektif.
Larva infektif masuk ke dalam probosis lalat dan dikeluarkan bila lalat
mengisap darah manusia. Larva masuk lagi ke dalam jaringan ikat menjadi dewasa
dalam tubuh hospes dan mengeluarkan mikrofilaria. Mikrofilaria tersebut
menimbulkan kerusakan organ-organ tubuh manusia yang diserangnya.
2.4.5.
Patologi
Pada Onchocerciasis terdapat dua proses patologi, yaitu : (1)
Cacing dewasa yang tinggal pada daerah pertemuan saluran limfe, jaringan
subkutan yang dibatasi oleh jaringan fibrosis, biasanya tidak menunjukkan
gejala klinis yang nyata. (2) Mikrofilaria yang dikeluarkan induknya kemudian
masuk ke dalam kelenjar limph kutis dan
subkutis. Dalam beberapa kasus mikro filaria bermigrasi ke bola mata, sering
dihubungkan dengan terjadinya lesimikrofilarianya dan atau metabolik dari
cacing dewasa dan mikrofilaria bertanggung jawab untuk terjadinya kerusakan
saraf mata yang irreversible.dengan adanya pematangan cacing di dalam
kulit akan timbuk reaksi lokal sehingga timbul nodul fibrosis yang membatasi
gerak parasit tersebut. Lesi primer khas, yaitu terbentuknya nodul, terdiri
atas jaringan fibrosa yang di bentuk kurang dari satu tahun. Pada perabaan,
nodul ini keras padat, permukaannya putih ke abu-abuanserta mengandungsera
mengandung dua atau lebih cacing dewasa dan banyak mikrofilaria (Djaenudin, 2009).
Kelainan yang disebabkan
oleh cacaing dewasa merupakan benjolan yang disebabkan oleh cacing dewasa
merupakan benjolan-benjolan yang dikenal sebagai onkoserkoma dalan jaringan
subkutan. Ukuran benjolan bermacam-macam dari yang kecil sampai yang sebesar
lemon. Jumlah benjolanpun bermacam-macam dari yang sedikit sampai yang lebih
dari seratus. Letak benjolan biasanya diatas tonjolan-tonjolan tulang seperti
pada skapula, iga, tengkorak, siku, krista iliaka, lutut dan sakrum dan
menyebabkan kelainan kosmetik. Benjoalan dapat di gerak-gerakkan dan tidak
terasa nyeri.
2.4.6.
Pencegahan
dan Penanganan
Pencegahan
dapat dilakukan dengan menghindari gigitan lalat Simulium dan memakai
pakaian tebal yang menutupi seluruh tubuh Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari gigitan lalat Simulium
dan memakai pakaian tebal yang menutupi seluruh tubuh.
Obat yang
dipakai adalah Ivermectin baik untuk pengobatan masal maupun selektif. Ivermectin
merupakan obat pilihan dengan dosis 150 ug/kg berat badan, diberikan satu
atau dua kali per tahun pada pengobatan masal. Untuk pengobatan individu, dapat
diberikan pada dosis 100 – 150 ug/kg berat badan dan diulang setiap 2 minggu,
bulan atau 3 bulan hingga mencapai dosis total 1,8 mg/kg berat badan. Obat ini
tidak diberikan kepada anak-anak di bawah 5 tahun atau beratnya kurang dari 15
kg, ibu hamil, menyusui, atau orang dengan sakit berat. Ivermectin (Mectizan)
mempunyai efek yang kuat dalam membunuh mikrofilaria. Efek samping (mirip Mazotti
reaction pada pemberian DEC), jarang terjadi dan jauh lebih ringan berupa :
gatal-gatal, erupsi kulit, nyeri otot tulang, edema tungkai dan wajah, demam,
pembesaran kelenjar disertai nyeri. Efek samping dapat diatasi dengan analgesik
dan kortikosteroid. Pada pemberian selanjutnya efek samping semakin berkurang.
Ivermectin mempunyai efek yang kuat dalam membunuh mikrofilaria tapi tidak
terhadap cacing dewasa.
Suramin merupakan satu-satunya obat yang membunuh cacing dewasa O.volvulus
tetapi jarang dipakai mengingat cara pemberiannya yang relatif sulit dan
toksiksitasnya tinggi.
Penggunaannya
hanya : untuk pengobatan kuratif yang selektif di daerah yang tak ada transmisi
atau pada orang yang meninggalkan daerah endemik O.volvulus dan pada
kasus-kasus onkodermatitis hiperreaktif dan berat dimana gejala-gejala tak
dapat dikendalikan dengan ivermectin dosis berulang.
Diethylcarbamazine
(DEC) hanya membunuh mikrofilariae.
Dietilkarmabasin tidak lagi dipakai mengingat efek sampingnya yang berat.
2.5.
Dracunculus medinensis (cacing guinea)
2.5.1.
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Nemathelminthes
Class :
Nematoda
Order : Camallanidae
Superfamily : Dracunculoidea
Family : Dracunculidae
Genus : Dracunculus
Species : Dracunculus medinensis
Order : Camallanidae
Superfamily : Dracunculoidea
Family : Dracunculidae
Genus : Dracunculus
Species : Dracunculus medinensis
2.5.2.
Epidemiologi,
Distribusi Geografik, dan Penyakit terkini
Dracunculiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang Dracunculus medinensis. Yang menyebabkan rasa sakit, luka kulit meradang
dan radang sendi yang melemahkan. Infeksi tersebut terjadi sebagian besar
pada jalur sempit melintasi beberapa negara di daerah Afrika Selatan dan di
Yaman dan hanya berlangsung pada musim tertentu.
2.5.3.
Morfologi
Cacing ini berbentuk silindris dan memanjang seprti
benang. Permukaan tubuh berwarna putih susu dengan kutikula yang halus.
Ujung anterior berbentuk bulat tumpul sedangkan ujung posterior
melengkung membentuk kait. Memiliki mulut yang kecil dan ujung anteriornya
dikelilingi paling sedikit 10 papila. Cacing jantan panjangnya 12-40 mm
dan lebarnya 0,4 mm Cacing betina panjangnya 120 cm dan lebarnya1-2 mm. Cacing dewasanya hidup di dalam jaringan ikat dan jaringan subcutan.
Penularan dapat terjadi bila orang minum air yang mengandung larvanya.
2.5.4.
Daur
Hidup

Sumber:
http://www.dpd.cdc.gov
Bila manusia
meminum air mentah mengandung cyclops yang telah terinfeksi oleh larva cacing
ini menetas lalu menembus dinding usus menuju jaringan bawah kulit,
jantung atau otak. Setahun kemudian, cacing yang telah dewasa akan bereproduksi
dan bergerak menuju permukaan kulit (umumnya tangan atau kaki), jantan akan
mati setelah 3-7 bulan setelah infeksi. Betina yang akan bereproduksi akan
menimbulkan bercak merah yang terasa sangat panas lalu menimbulkan luka terbuka
pada anggota badan tersebut. Pada saat bagian tubuh yang terluka itu direndam
air (untuk mengurangi rasa panas yang ditimbulkan) cacing betina dewasa
akan keluar (dapat dilihat dengan mata) dari luka tersebut dan melepaskan larva
muda kemudian larva muda mencari Cyclops dan siklus kembali
terulang. setelah proses ini terselesaikan, betina akan mati, apabila
tidak dapat keluar dari tubuh maka cacing tersebut akan terkristalisasi didalam
tubuh inangnya. Luka terbuka yang diakibatkan oleh penetrasi cacing ini
memiliki potansi yang besar terkena infeksi bakteri sekunder (bakteri
tetanus,bakteri pemakan daging dsb) apabila tidak diobati secara tepat.
2.5.5.
Patologi
Orang
menjadi terinfeksi dengan meminum air yang mengandung semacam binatang air yang
terinfeksi berkulit keras yang kecil, yang selanjutnya menjadi hunian untuk
cacing tersebut. setelah penyerapan, crustacean mati dan melepaskan larva, yang menembus dinding
usus. Larva matang menjadi cacing dewasa sekitar 1 tahun. Setelah dewasa,
cacing betina bergerak melalui jaringan di bawah kulit, biasanya menuju kaki.
Di sana, mereka membuat bukaan pada kulit sehingga ketika mereka melepaskan
larva, larva tersebut bisa meninggalkan tubuh, masuk ke air, dan menemukan
hunian crustacean. Jika larva tidak mencapai kulit, mereka mati dan
hancur atau mengeras (calcify)
di bawah kulit.
Gejala-gejala
diawali ketika cacing tersebut menembus kulit. Sebuah lepuhan terbentuk pada
bukaan. Daerah di sekitar lepuhan gatal, terbakar, dan meradang-bengkak, merah,
dan menyakitkan. Material yang dilepaskan cacing tersebut bisa menyebabkan
reaksi alergi, yang bisa mengakibatkan kesulitan bernafas, muntah, dan ruam
yang gatal. Gejala-gejala reda dan lepuhan tersebut sembuh setelah cacing
dewasa meninggalkan tubuh. pada sekitar 50% orang, infeksi bakteri terjadi di
sekitar bukaan karena cacing tersebut. Kadangkala persendian dan tendon di
sekitar lepuhan rusak.
2.5.6.
Pencegahan
dan Penanganan
Biasanya, cacing dewasa pelan-pelan diangkat lebih dari sehari sampai
seminggu dengan memutarnya pada sebuah batang. Cacing tersebut bisa diangkat
dengan cara operasi setelah bius lokal digunakan, tetapi pada banyak daerah,
metode ini tidak tersedia. Orang yang juga mengalami infeksi bakteri kadangkala
diberikan metronidazole untuk mengurangi peradangan.
Cara pencegahannya meliputi : Penyaringan air minum melalui kain katun tipis,
merebus air hingga mendidih sebelum
digunakan, dan hanya meminum air berklorin membantu mencegah dracunculiasis.
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan dari Bab sebelumnya
dapat disimpulkan bahwa Nematoda parasit jaringan adalah parasit yang hidup
pada jaringan hospesnya, pada nematoda ini hospesnya adalah manusia. Nematoda
yang termasuk pada parasit jaringan diantaranya adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi
dan Brugia Timori, Loa- loa, Onchocerca volvulus, dan Dracunculus medinensis (cacing guinea).
Parasit jaringan
dari kelas nematoda ini kebanyakan di bawa oleh vektor yang membawa larva
cacing parasit ini, misalnya vektor biologis/hospes
perantaraan untuk Wuchereria bancrofti adalah dari genus : Culex, Anopheles dan
Aedes, B.malayi yang hidup pada
manusia ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris dan yang hidup pada manusia dan hewan
ditularkan oleh nyamuk Mansonia. B.timori ditularkan oleh nyamuk An.barbirostris, cacing loa- loa
tersendiri dibawa oleh vektor lalat
tse-tse, vektor simulium blackfly merupakan fektor yang membawa Onchocerca
volvulus, dan Dracunculus
medinensis dibawa oleh sejenis hewan air yang mana larva
cacing ini menempel.
3.2.
Saran
Agar tidak terpapar parasit
ini hendaknya menjaga sanitasi lingkungan dan menerapkan PHBS dalam kehidupan
sehari-hari, selain itu hendaknya memakai pakaian yang melindungi seluruh tubuh
agar terhindar gigitan vektor yang membawa larva dari cacing kelas ini.
DAFTAR PUSTAKA
Astiti, Prima Okta Indri dan Tri Wulandari
Kesetyaningsih. 2007. Studi Prevalensi Mikrofilremia beserta Faktor
Perilaku Masyarakat di Kelurahan Puluhan dan Kelurahan Gempol, Kabupaten Klaten. http://publikasi.umy.ac.id/-index.php/pend-dokter/article/view/4784/4102 Diakses pada 15 Maret 2013
Entjang, Indan.
2011. Mikrobiologi dan Parasitologi. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti
Eze, Jonathan dan
Matur Bernard Malau. 2011. Assessment Of The Epidemiology Of Onchocerca
Volvulus After Treatment With Ivermectin In The Federal Capital Territory,
Abuja, Nigeria. www.arpapress.com/Volumes/Vol7Issue3/IJRRAS-_7_3_12.pdf Diakses pada 18 Maret 2013
Muslim. 2009. Parasitologi
untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
Natadisastra,
Djaenudin. 2009. Parasitologi kedokteran. Jakarta: EGC
Onggowaluyo.
Jangkung Samidjo. 2002. Parasitologi Medik 1. Jakarta: EGC
Oparaa, K.N. dan B.O. 2008. Fagbemi.
Population Dynamics of Onchocerca Volvulus Microfilariae in Human Host After
Six Years of Drug Control; J
Vector Borne Dis 45, March 2008, pp. 29–37. http://www.mrcindia.org/journal/issues/-451029.pdf Diakses pada 19 Maret 2013
Staf Pengajar Departemen Parasitologi FK UI. 2008. Parasitologi
Kedokteran. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
terus berbagi hal hal yang bermanfaat
ReplyDeletekeep bloging
in syaa Allah
Delete